Minggu, 03 Januari 2010

Terpercaya (oleh Denny Christian)

Diskriminasi ras di Amerika bukan hal yang asing bagi kita semua, dimana orang kulit hitam lebih dikucilkan oleh orang kulit putih. Nelson Mandela adalah seorang tokoh dunia yang berjuang untuk persamaan hak bagi bangsa Afrika yang berkulit hitam, seorang yang ingin memperjuangkan kesamaan hak antara orang kulit hitam dengan orang kulit putih. Kini, Barack Obama, orang nomor satu di negara adidaya tersebut berasal dari ras kulit hitam. Beliau telah dipercaya memimpin Amerika dan telah mencatat namanya sebagai Presiden Amerika pertama yang berasal dari ras kulit hitam. Ras kulit hitam perlahan tapi pasti mendapat kepercayaan dari bangsa Amerika, dari dunia, untuk menjalankan suatu kepemimpinan besar. Hal ini diperoleh dengan tidak mudah. Butuh perjuangan dan pengorbanan untuk mendapatkan suatu kepercayaan dari orang lain. Adalah Barack Obama, salah seorang dari ras kulit hitam, yang telah berhasil mendapatkan hal itu. Semoga Barack Obama dapat menjadi seorang yang benar-benar terpercaya. Amin…….

Kreatif (oleh Denny Christian)

Online…online… online…online…^^ Semua orang pasti tau apa itu facebook, website jaringan sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004 yang sekarang lagi “in” di semua kalangan. Facebook yang awalnya dibatasi untuk siswa Havard kini telah tersebar luas di seluruh penjuru dunia, bahkan telah menggeser website jaringan sosial yang telah “boom”ing sebelumnya, yaitu friendster. Mengapa demikian??? Tentu hal ini berkat ide kreatif dari pencipta facebook sendiri yang telah melihat kekurangan dari friendster. Lihat saja banyak fitur-fitur yang dapat kita temui di facebook yang tidak dimiliki oleh friendster, seperti chatting box (yang berguna untuk mengetahui siapa saja teman kita yang lagi online saat ini, dan juga bisa digunakan untuk chatting), tag foto, upload video, macam-macam bahasa, dan juga game yang terdapat di dalamnya. Game juga merupakan salah satu alasan kuat orang membuat ID Facebook. Facebook bisa dikatakan menjadi suatu kebutuhan saat ini, bahkan demi Facebook orang rela memberi handphone Blackberry, sehingga bisa online kapanpun mereka mau. Facebook juga merupakan sumber informasi yang aktual. Selain itu di beberapa organisasi, mengumumkan sesuatu lewat Facebook dianggap lebih efektif dibandingkan mengumumkan lewat website internal. Facebook menjadi sebuah situs yang "all in one", yang dapat memenuhi kebutuhan kebanyakan orang pada saat ini... ^^

Gigih (oleh Denny Christian)

Mungkin bagi pencinta game saat ini, logo ini dianggap telah kadaluarsa karena sekarang logo perusahaan telah berubah menjadi SQUARE-ENIX. Secara individu, Squaresoft bisa dibilang legenda di perusahaan game. Squaresoft adalah perusahaan yang hampir bankrut pada tahun 1987 dikarenakan squaresoft kurang memiliki franchise game yang sukses dan saat itu kalah bersaing dengan saingannya yaitu ENIX (yang saat ini bergabung dengan Squaresoft). Dengan sisa dana yang ada Squaresoft membuat satu proyek terakhir yang diberi nama Final Fantasy. Nama itu diambil karena itu adalah fantasi terakhir mereka karena jika proyek itu gagal maka Squaresoft akan bankrut. Hasilnya?? Fantasi itu bukan fantasi terakhir mereka, tetapi merupakan fantasi awal yang akan diikuti fantasi-fantasi yang akan mereka ciptakan berikutnya. Final Fantasy sukses besar bahkan Final Fantasy menjadi salah satu legenda dalam dunia RPG (Role Playing Game). Orang yang tidak bermain gamepun (ada ta?? ~__~a) pasti pernah mendengar nama besar Final Fantasy yang kini muncul dengan banyak sekuelnya, baik berupa game maupun film. Munculnya Final Fantasy ini adalah hasil dari kegigihan perusahaan squaresoft dalam industri permainan (game). Walaupun kondisi perusahaan sudah hampir tidak memungkinkan untuk menciptakan suatu game yang baru, tetapi dengan mimpi, tekad dan kemauan untuk tidak berputus asa, maka lahirlah sebuah game yang sangat populer dan pasti tidak mudah dilupakan oleh para gamers ini.

Story of a Man Named Larry (oleh G.A. Dyah Shanty)

‘Tis a story ‘bout a man named Larry
He lived in a farm full of maple tree
While everyone said he shall sell the sap
He thought it would be fun to set his farm on the map
He thinks creatively, thus come the story

He set up not only a syrup factory
He made himself a new plan to carry
He bought a piece of land
And set up his own pancake land
And for the maple syrup, he use the sap from his land

His pancake is so hot
That people starts to flock
Now he’s opening his fourth chain
In other cities far from his plain
And he made his fortune continuously came

‘Twas all because he knows
He shouldn’t think just the way it goes
He gladly said to everyone
‘Tis was all because the pancake ones
That he think about it, creatively

And to think about creativity,
Don’t you think to compose a story
Using limerick as the way to carry
Needs more than just simple creativity
Don’t you think so sirs and ma’ams?

The Story of Dewandaru Flower (oleh G.A. Dyah Shanty)

Thousand white petals fall down to the earth, it was only two day after they bloomed perfectly under the cloudy sky of rainy season. The trunk stands silently watching its flower scattered and covered the ground with pure white. Some was gone with moist wind of twilight, some was left and let its fragrance lingered, filled the night mist. Was they gone in vain? Was the exquisiteness is made to be forgotten? Everyone knows that it was only a law of nature, a sacrifice for a bigger deed. The flower must vanish to create a fruit and it is the fruit that everyone needs…

The story above is a simple tale of a wood that called “Dewandaru”. This wood is believed as a mystical plant that could bring a fortune. Its fruit is very useful to heal illness and often use for ingredients in traditional medicine. Also there is a myth that said if the fruit accidentally fallen on someone, that person will have a great fortunate even his/her desire will come true. But people even forget about its flower, its tiny white fascinating flower that has a great contribution to create the fruit. The flower blooms in a flock in the edge of every stalk, each flock consists of 3-5 flowers. When it is on the full blossom, the whole tree will covered with white petals and looks like a flowing giant white bouquet in a distance. Its beauty is so enchanting until it is comparable to famous flower of Japan, The Sakura. But unfortunately, still there is many of our people do not realize this incredible plans and make this great heritage seemed uncover yet. Because they used to think about what we do not have but forget what we already own, our original treasure. It is so pity that this blooming time of this plant is so short that it’s scarcely noticed. It usually last only for two days or four in the most, and then it falls down, remaining a small fruit in every stalk.

This flower perhaps is not the most beautiful one, but it live in its own way and that left it so special. Its uniqueness gives different touch to its value and its originality can only make it unforgettable one. This also can be applied in our live. We don’t have to be the most beautiful or the greatest one to be a special person. If we can offer something original, something that unique and new, it is enough to make our life special. Like a tiny flower of Dewandaru which has a short life but had lived it wholeheartedly, it would be an unforgettable story for everyone. What we do is give the best to our life and do not ever afraid of being different and original.

PERSISTANT (oleh G.A. Dyah Shanty)

Perfection is what we seek
Enthusiasm is what we give
Regard when life offers challenge
Seize every opportunity
It never cease through difficulties
Sweat that count as dedication
Thirst of strive to achieve the best
A will that always stand
Never give up in every way
Those are the soul of persistence

Pesan di Akhir Tahun (oleh G.A. Dyah Shanty)

Hari itu tidak lebih lenggang daripada hari-hari yang lainnya, hanya suara radio yang sayup-sayup memenuhi ruangan dengan melodi jazz yang berat dan memenangkan. Pengunjung terakhir baru saja meninggalkan ruangan restoran itu dengan malas, menghilang begitu saja di tengah udara malam yang lembab sehabis hujan. Detak jam terasa begitu hidup dan menuntut, seakan dengan jelas menghitung waktu yang tersisa sebelum pergantian tahun.

Arie sudah menyelesaikan semua tugas-tugasnya, bahkan jauh sebelum tamu terakhir pergi. Sekarang setelah mengembalikan semua perlengkapan makan terakhir ke tempatnya, ia harusnya menikmati sisa jam kerjanya hingga tengah malam nanti dalam kedamaian. Namun, nyatanya jantung Arie berdetak jauh lebih cepat dari detak jam. Berulang kali ia mengawasi sebuah blackberry yang berkedip-kedip di sudut sofa, milik seorang tamu yang tertinggal. Ia masih ingat pemiliknya adalah seorang gadis yang tadi begitu rebut dengan teman-temanya. Usianya mungkin sekitar 18 tahun, dan dari pakaian dan gaya bahasanya, terlihat jelas kalau ia berasal dari keluarga berada. Hati Arie mencelos mengingatnya. Masa remajanya tak bisa dibilang menyenangkan, hanya sekurun waktu yang ia habiskan dengan semestinya. Prestasinya tidak pernah lebih dari rata-rata dan dua tahun setelah ia lulus dari SMA, bapaknya menikahkannya dengan gadis tetangga sekampungnya. Hidup mereka cukup baik, apabila bisa makan tiga kali sehari sudah dibilang baik. Dan setelah anak pertama mereka lahir, Arie mendapat kerja di sebuah restoran yang cukup ternama sehingga pada akhir minggu ia bisa membawa keluarganya main d alun-alun atau sekedar bersenang-senang di pasar malam yang kadang berhenti di lapangan dekat kampungnya.

Namun, Arie merasa cukup senang. Hidupnya damai dan tenang. Anaknya tumbuh sehat dan selalu menceriakan hatinya. Walau begitu, dalam hatinya tetap terpendam keinginan untuk membelikan gaun yang lucu untuknya, agar putrid kecilnya tidak kalah cantik dengan anak-anak yang sering dibawa tamu-tamu restorannya. Acapkali dengan pedih ia mengubur keinginannya itu, gajinya tidak akan pernah bisa mengabulkannya. Sekarang di hadapannya terbuka kesempatan untuk membuat mimpinya nyata. Sebuah blackberry yang masih tergolong baru telgeletak dalam jangkauannya, menunggu keputusannya. Ia tahu kisaran harganya, karena diam-diam ia sering membaca korann yang tertinggal dan bermimpi memiliki salah satu barang mewah itu suatu hari nanti. Terbayang olehnya senyum manis sang putrid dalam balutan gaun pink berenda, sebuah sepatu putih mengkilap akan melengkapi penampilan cantiknya. Ia juga bisa membelikan anting emas mungil yang diam-diam diinginkan istrinya, dan untuk dirinya mungkin sebuah handphone sudah cukup.

Arie terdiam sejenak. Sekali lagi ia melihat ke sekeliling seakan memastikan tidak ada saksi mata. Keringat dingin sudah membasahi tengkuknya, seakarang mulai mehiasi telapak tangannya. Perlahan ia menjangkau Blackberry itu dari balik meja, menggenggamnya dengan kidhmat, merasakan kemewahan yang belum pernah ia miliki. Tiba-tiba blackberry itu bergetar lagi, hampir saja Arie melemparnya karena kaget. Namun ia masih bisa mengendalikan diri. Ia tahu telepon itu dari pemiliknya, ia bisa mersakannya. Sekali lagi kebimbangan melanda pikirannya. Arie tidak pernah mencuri sebelumnya, bahkan mangga milik tetangga pun tidak. Ayahnya memang bukan orang berada, namun tak kenal lelah menanamkan norma-norma.

“Bukankah kamu tidak mencurinya?” kata sebuah suara di hatinya “kamu hanya memungut sebuah barang yang tertinggal. Tentu saja kamu punya hak untuk memiliknya”

Sejenak Arie tergoda, namun tiba-tiba saja hatinya teguh. Dengan mantap ia tekan tombol terima dan menjawab panggilan itu…

***

Sepanjang perjalanan pulang, Arie masih terbayang kejadian tadi. Anak gadis pemilik blackberry itu datang padanya dengan bercucuran air mata. Ia diantar oleh salah satu temannya, yang tidak kalah gugupnya. Gadis itu bilang, benda itu adalah hadiah ulang tahunnya dan orang tuanya pasti akan marah besar jika ia sampai menghilangkannya. Arie tersenyum kecil, entah kenapa hatinya terasa hangat. Di langit semburat warna-warni kembang api telah menandakan berpindahnya tahun. Satu kurun waktu telah ia lalui dan ia bersyukur karena telah dapat melaluinya dengan cukup baik.

Sesampainya di rumah istrinya menyambutnya dengan senyum, dan bercerita bahwa putrinya telah mencoba menunggu kedatangannya, namun jatuh tertidur. Tergerak, Arie masuk ke kamar putrinya, membelai wajahnya yang manis dan polos. Setitik rasa sesal hinggap di benaknya, angan-angan untuk memberikan sesuatu yang lebih baik untuk sang buah hati. Arie mendesah dan memalingkan muka dan ia menemukan sebuah catatan dengan tulisan tak beraturan di meja kecil di samping tempat tidur putrinya. Arie membaca tulisan itu sepenuh hati dan sekejap hatinya kembali hangat, dan ia benar-benar bersyukur akan hidupnya.